Konflik Horisontal di Jalanan Kota: Ketika Kepentingan Mahasiswa dan Pengemudi Ojol Berbenturan
Gesekan fisik antara pengemudi ojek daring dan mahasiswa di perkotaan bukan sekadar insiden jalanan, melainkan cerminan dinamika sosiologis yang kompleks. Simak analisis kritisnya.

Pendahuluan: Retaknya Ruang Publik Perkotaan
Ruang publik di perkotaan seharusnya menjadi tempat yang aman dan inklusif bagi semua warga. Namun, realitas seringkali berkata lain. Gesekan fisik antara pengemudi ojek daring dan kelompok mahasiswa di beberapa kawasan perkotaan menunjukkan bahwa ruang publik kita sedang mengalami retak yang serius. Fenomena ini bukanlah sekadar perselisihan jalanan biasa, melainkan cerminan dari dinamika sosiologis yang lebih dalam: perebutan fungsi ruang fisik kota, kerentanan kelas sosial-ekonomi urban, serta kecepatan mobilisasi massa berbasis jejaring digital.
Dalam tulisan ini, kita akan mengupas lebih dalam akar permasalahan dan mencari solusi konstruktif. Sebagaimana diulas dalam artikel Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus, insiden kekerasan di lingkungan kampus menjadi cermin retaknya komunikasi sosial serta rapuhnya ruang publik saat dua kelompok warga beririsan di koridor jalan yang sama.
Daftar Isi
- Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama
- Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik
- Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga
- Langkah Konkret Pencegahan
- Kesimpulan: Menuju Ruang Publik yang Lebih Baik
Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama
Konflik horizontal di kawasan perkotaan kerap meletup ketika dua kelompok dengan kepentingan mendesak saling berbenturan di ruas jalan arteri yang terbatas. Di satu sisi, mahasiswa menggunakan badan jalan sebagai ruang artikulasi politik untuk menarik perhatian publik dan menekan pembuat kebijakan. Pembatasan akses jalur diposisikan sebagai instrumen unjuk kekuatan simbolik di ruang terbuka. Di sisi lain, pengemudi ojek daring bekerja di bawah kendali algoritma yang menuntut ketepatan waktu tempuh, efisiensi rute, dan pemenuhan target harian. Terhambatnya akses jalan langsung memotong pendapatan riil serta berisiko mendatangkan penalti performa dari sistem aplikasi.
Ketika dua desakan ini bertemu tanpa mediasi seketika, gesekan kecil di garis depan unjuk rasa dengan cepat menyulut eskalasi fisik. Adu argumen saat melintasi barisan demonstrasi dapat segera berujung pada perusakan properti dan benturan massal antarkelompok. Ini adalah titik kritis yang menunjukkan betapa rapuhnya kohesi sosial kita ketika kepentingan ekonomi dan politik bertabrakan di ruang yang sama.
Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik
Ciri paling kentara dari dinamika pekerja sektor ekonomi gig adalah kecepatan konsolidasi massanya. Jaringan grup pesan instan yang sehari-hari berfungsi sebagai bantalan perlindungan mandiri untuk berbagi rute atau informasi darurat dapat berubah seketika menjadi kanal mobilisasi fisik. Penyebaran cuplikan video pendek tanpa konteks utuh di media sosial memantik apa yang disebut Émile Durkheim sebagai solidaritas mekanis: kerugian yang dialami satu anggota dipandang sebagai ancaman langsung terhadap martabat seluruh paguyuban. Ratusan pengemudi dapat bergerak mendatangi titik lokasi dalam waktu singkat, melampaui kemampuan negosiasi lapangan maupun pengendalian awal aparat setempat.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi digital telah mengubah cara solidaritas terbentuk. Solidaritas mekanis yang didasarkan pada kesamaan nasib dan identitas profesi kini dapat terpicu dalam hitungan menit melalui aplikasi pesan. Di sisi lain, mobilisasi mahasiswa juga tidak kalah cepat. Jejaring sosial media memungkinkan koordinasi massa yang efisien, sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan serupa untuk mengerahkan massa dalam waktu singkat.
Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga
Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya memikul beban ketidakpastian struktural yang serupa. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keadilan kebijakan publik, sementara mitra ojol berjuang menjaga kepastian nafkah harian. Keduanya adalah korban dari sistem yang belum mampu mengakomodasi kebutuhan masing-masing secara adil. Alih-alih saling memahami, mereka justru terjebak dalam konflik yang tidak menguntungkan siapa pun.
Dalam perspektif sosiologis, konflik horizontal seperti ini seringkali mengalihkan perhatian dari akar masalah struktural. Ketika warga saling bertikai, pemerintah dan pemangku kepentingan bisa berlindung di balik narasi "konflik antar-warga" tanpa harus menyelesaikan masalah mendasar: ketimpangan akses ruang publik, lemahnya perlindungan sosial, dan minimnya dialog antar kelompok.
Langkah Konkret Pencegahan
Pencegahan peristiwa serupa di masa depan menuntut langkah konkret yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
- Pengawalan Koridor Lalu Lintas: Pengendali aksi mahasiswa wajib memastikan adanya akses perlintasan bagi masyarakat pekerja agar demonstrasi tidak mengorbankan mobilitas warga rentan. Hal ini dapat dilakukan dengan berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengatur rute alternatif.
- Verifikasi Internal Komunitas: Pimpinan komunitas ojek daring perlu membangun mekanisme penyaringan informasi internal guna meredam ajakan aksi balas dendam yang dipicu video viral sepihak. Literasi digital dan penguatan organisasi sangat krusial.
- Mediasi Formal Multi-Pihak: Otoritas kampus bersama kepolisian setempat perlu membuka forum komunikasi berkala bersama serikat pekerja transportasi untuk menyelesaikan insiden lapangan secara musyawarah sebelum bereskalasi menjadi kericuhan luas.
Langkah-langkah ini bukanlah solusi instan, tetapi merupakan fondasi untuk membangun budaya dialog dan saling pengertian di ruang publik. Dengan pendekatan yang inklusif, kita dapat mencegah konflik serupa terulang.
Kesimpulan: Menuju Ruang Publik yang Lebih Baik
Retaknya ruang publik perkotaan sebagaimana tercermin dari konflik antara pengemudi ojek daring dan mahasiswa adalah panggilan untuk introspeksi kolektif. Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan ketegangan horizontal menggerogoti solidaritas sosial. Sebaliknya, kita harus melihat fenomena ini sebagai peluang untuk memperbaiki tata kelola ruang publik, memperkuat dialog antar kelompok, dan membangun empati di tengah perbedaan kepentingan.
Dengan semangat optimistis, mari kita jadikan peristiwa ini sebagai titik balik menuju ruang publik yang lebih adil, aman, dan inklusif bagi semua. Mari kita dukung upaya mediasi dan pendidikan publik yang mencerdaskan. Karena pada akhirnya, kota yang baik adalah kota yang mampu merangkul semua warganya tanpa terkecuali.
Mari kita mulai dari diri sendiri: tingkatkan empati, verifikasi informasi, dan junjung tinggi dialog. Ruang publik yang sehat adalah tanggung jawab kita bersama.
Sumber / Referensi
Daftar Pustaka
Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.
Infojakarta (2026). ketegangan yang berujung pada perusakan fasilitas kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Infojakarta.
https://infojakarta.blog/artikel/dari-aksi-damai-ke-ricuh-massal-pelajaran-pahit-dari-bentrok-unm-yang-mengubah-wajah-kampusCatatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Scrabble Online.
